Ketika enumerator mendatangi Hobajangi, mereka menjumpai siswa kelas lima yang belum mengenal huruf. Namanya Regina. Ia tinggal bersama nenek yang bekerja di ladang, sementara orang tuanya menetap di desa lain. Di rumah, hampir tak ada yang bisa mendampinginya belajar, apalagi menyediakan bacaan.
Di sekolah, Regina kerap tertinggal. Dari sebelas anak di kelasnya, sebagian besar sudah mampu membaca, ia masih berjuang mengenali kata. Buku tersedia di perpustakaan, namun baginya lembar-lembar itu belum bisa dinikmati. Lingkungan tak banyak membantu: bahasa sehari-hari berbeda dari bahasa pengantar di sekolah, sementara pilihan bacaan terbatas.
Wilayah Sumba Barat sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam pendidikan dasar. Rapor literasi menunjukkan capaian yang rendah, sehingga pada tahun 2025 program Sekolah Aman menjadikannya lokasi dampingan. Tiga sekolah dipilih sebagai titik awal perubahan: SDN Hobajangi, Kadoku, dan Rajaka. Fokusnya jelas—mendorong anak-anak agar lebih melek baca tulis, sekaligus mengubah wajah literasi di kabupaten ini.
Baseline literasi memperlihatkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Di ketiga sekolah dampingan, masih ada anak kelas lima yang bahkan belum mengenal huruf, sementara sebagian lainnya belum bisa mengeja atau menggabungkan suku kata. Lebih banyak lagi yang belum lancar membaca, meski sudah mampu menyebutkan kata. Di Hobajangi, satu siswa kelas lima tercatat berada di level paling awal: Regina.
Sampai Pak Markus mendatanginya. Ia tak berhenti pada pelajaran di kelas, tetapi hadir di rumah. Setiap pagi di Hobajangi, sebelum belajar dimulai, ada sesi membaca singkat selama 15 menit. Selepas dari sekolah, ia meluangkan waktu khusus untuk melatih Regina lebih intensif. Cara yang tampak sederhana, namun memberi jalan baru. Di balik sunyi desa, terdengar suara lirih: huruf diucapkan, kata perlahan tersambung, kalimat akhirnya terbaca.
Hasilnya mulai tampak. Dari catatan awal, Regina berada pada tingkat literasi paling dasar. Kini ia sudah mampu membaca, meski belum lancar, masih terbata ketika bertemu deretan konsonan, tapi tak lagi mengeja kata per kata. “Suka cerita dongeng, bacanya lambat,” ujarnya malu-malu. Guru yang mendampinginya percaya, dengan proses yang konstan, Regina akan segera lebih fasih.
Perubahan ini mungkin terlihat kecil, namun maknanya besar. Dari anak yang hanya diam di kelas, menjadi seorang yang berani membuka buku. Dari huruf yang asing menjadi bagian dari kesehariannya. Dari bisu menuju suara. Di Hobajangi, Regina menemukan langkah pertamanya.