Narasi reflektif tentang kepemimpinan perempuan di Sekolah Aman Kupang

 

Tak ada satu pun buku panduan yang menjelaskan bagaimana menjadi kepala sekolah di tengah angin kencang yang datang tiba-tiba, atau saat ruang kelas tinggal tiang dan tanah.

Tapi mereka berdiri juga. Empat perempuan. Di empat sekolah kecil. Di empat desa yang letaknya mungkin tak bisa disebut tanpa jari yang menunjuk, atau tak tampak pada peta dengan silang garis lintang yang samar.

Mereka tak datang dengan rencana besar. Tapi mereka tinggal, mendengarkan, lalu bergerak.

Di Manefu, Marlina Kadir mengubah ruang darurat menjadi ruang belajar. Bukan karena ia tahu caranya, tapi karena ia tahu muridnya tak bisa terus belajar sambil memegangi atap bocor. Ia tak menunggu siap. Ia mendekat, meminta, membagi peran, dan pelan menyusun harapan. Ia menyebutnya: “Berawal dari mimpi seorang kepala sekolah ingin menjadikan lingkungan sekolah itu seperti apa.”

Marlina tak hanya menanam pohon di halaman, tapi juga kebiasaan membaca 15 menit sebelum kelas dimulai. Sekolahnya bukan hanya tempat datang dan pulang, tapi tempat menumbuhkan yang sebelumnya rapuh.

Program capaian literasi yang ia terapkan menjadi denyut baru di sekolah. Setiap anak, apa pun latarnya, diberi kesempatan mengulang, mengeja, dibacakan, dan membaca lantang. “Bale Belajar” bukan ruang remedial, melainkan ruang pemulihan. Di sana, anak-anak tak ditertawakan karena terlambat bisa. Mereka dibimbing hingga bisa membacakan cerita untuk adiknya di rumah.

Di Oelii 2, Elsy Toelle tak pernah meninggalkan sekolah sebelum anak-anak selesai membaca. Ia selalu memperhatikan. Kadang memberi masukan pada wali kelas agar mengatur tempat duduk: yang masih mengeja kata berada di dekat guru, atau sekadar mengecek laporan guru fasilitator. Karena Elsy percaya, yang lambat bukan anaknya, tapi cara mengajar. Ia menyadari bahwa kehadiran pemimpin bukan sekadar keputusan administratif. Maka ia berujar: “Saya tidak pulang, saya tetap ada di sekolah.”

Elsy menolak menyerah pada logika “normal”, dan memilih mendampingi yang tertinggal. Di tangannya, inklusi bukan jargon, melainkan cara kerja harian.

Sekolahnya berada di tengah padang, terbuka pada angin, terpapar kekeringan. Ia tahu, ketika sirene bencana berbunyi, tak ada banyak tempat berlindung. Maka ia membentuk tim siaga, menetapkan titik kumpul, dan memastikan anak-anak tahu: jika Badai Seroja terjadi lagi, ini jalur yang ditempuh, ini tangan yang digenggam. Di tengah sepi, Elsy menjaga ritme harian agar sekolah tetap terasa utuh, tak peduli musim.

Di Tetelek, Stefaliana—baru dua minggu menjadi ”mama kepala”—sudah berhadapan dengan tudingan, rumor, dan ego di balik meja rapat. Tapi ia tahu: kepemimpinan bukan soal menunggu semuanya mendukung. Ia mulai dari yang ada, meneruskan kerja dari kepala sekolah lama: menata ulang halaman sekolah, menyusun tim siaga, memperbaiki suara guru, dan menyemai kepercayaan. Katanya: “Saya pikir tantangan itu saya hadapi dulu selagi tidak merugikan.”

Silvi tak bicara soal prestasi, tapi menyusun batu kecil demi batu kecil untuk pijakan murid-muridnya mencapai pelajaran besok yang harus terus diraih.

Ia juga menyentuh kembali satu praktik yang hampir hilang: kebun gizi. Silvi tak menunggu proyek datang. Mulai dari bibit yang ada, dari tanah yang sudah dikenalnya sejak kecil. Ia ajak guru dan anak menanam, memanen kangkung dan bayam yang telah ditanam, memasaknya di sekolah, membaginya dengan anak-anak yang datang tanpa bekal. Literasi, bagi Silvi, tidak harus lewat buku. Bisa lewat daun yang ditanam dan ditulis ceritanya.

Dan kini, di Babau, Yuliana Dewi Ramat menjahit makna “aman” dari hal yang ditemui sehari-hari. Ia tahu aman bukan hanya soal pagar tinggi atau gedung yang kokoh. Tapi tentang anak yang tidak dipanggil “keriting” oleh temannya. Tentang guru yang memanggil nama, bukan meneriakkan julukan. Tentang mendengar alasan anak yang terlambat, bukan langsung menghakimi. Perundungan harus segera diakhiri.

“Ternyata, yang dimaksudkan dengan aman begini, anak-anak bisa merasa aman dengan gurunya ketika melihat gurunya itu bisa sebagai temannya, bisa sebagai orang terdekatnya.”

Ia tak mendramatisir kerja, tapi menjalani dengan tekun: dari menanam jagung di kebun gizi bersama orang tua, sampai meminjamkan buku bergambar ke siswa yang baru belajar mengeja.

Di perpustakaan yang direnovasi berkat dukungan program, anak-anak kembali membaca. Di ruang Bale Belajar, guru-guru yang dulu ragu kini menjadi fasilitator. Dan ketika langit mendung, ia menyalakan bel evakuasi, sambil mengabari orang tua lewat grup pesan. Semua berjalan tenang, karena kepala sekolahnya hadir, mendengar, dan memelihara irama harian sekolah—dari pagi sampai bel pulang.

Semua pemimpin tak memakai istilah manajerial yang rumit. Mereka bicara dengan kata yang sederhana: kerja sama. Tapi di balik itu, ada keputusan-keputusan sulit yang mereka buat sendiri, kadang tanpa dukungan penuh, kadang di tengah diam yang menantang.

Mereka hanya melanjutkan sesuatu yang barangkali sudah dikerjakan oleh yang lain: merawat harapan. Sekolah, bagi mereka, bukan tempat mengawasi—tapi ruang untuk menumbuhkan. Untuk menampung yang belum bisa membaca, yang tak membawa bekal, atau yang masih takut berdiri di depan kelas.

Dan mungkin, justru karena itu mereka bertahan.