Di beberapa desa di Kecamatan Silo dan Rambipuji, Jember, stunting bukan sekadar statistik. Ia tampak dalam tubuh anak yang lebih pendek dari usianya, dalam ibu hamil dengan lingkar lengan di bawah batas aman, dalam kebiasaan makan yang lebih akrab dengan jajanan warung daripada lauk berprotein.
Data 2022 menempatkan Jember di posisi tinggi prevalensi stunting di Jawa Timur. Angkanya menurun pada 2023, tetapi tetap di atas rata-rata nasional. Angka itu memberi isyarat: persoalan ini bukan insidental. Ia struktural.
Masalahnya tak tunggal. Ada ibu hamil yang menunda pemeriksaan karena kepercayaan bahwa kandungan belum boleh “diakui” sebelum tiga bulan. Ada keluarga yang merasa kehamilan adalah urusan biasa. Ada puskesmas yang memiliki alat USG tetapi tidak ada tenaga terlatih untuk mengoperasikannya. Ada balita yang kenyang oleh minuman manis dan makanan ringan berwarna cerah.
Dalam situasi itu, Program Mutiara hadir pada 2022. Program ini dijalankan oleh Yappika ActionAid bersama mitra lokal Yayasan Prakarsa Swadaya Masyarakat di empat kecamatan: Silo, Rambipuji, Kaliwates, dan Sumbersari. Tujuannya sederhana: memperbaiki akses dan kualitas layanan kesehatan ibu, anak, dan remaja, sekaligus memastikan desa ikut bertanggung jawab dalam pembiayaannya.
Langkah awalnya bukan membagi makanan, melainkan memeriksa sistem. Standar nasional mengharuskan minimal enam kali kunjungan antenatal dan pemeriksaan USG berkala. Di lapangan, standar itu belum sepenuhnya dijalankan. Program menyediakan perangkat USG portabel yang lebih praktis dan melatih dokter umum untuk menggunakannya.
Dampaknya segera terlihat. Ibu hamil mulai datang. Pemeriksaan tidak lagi dianggap mahal atau menakutkan. Di beberapa puskesmas, cakupan pemeriksaan meningkat signifikan. Yang berubah bukan hanya alat, tetapi kepercayaan.
Di tingkat desa, kader posyandu bergerak. Mereka mendata ibu hamil baru, mengingatkan jadwal periksa, membantu mengurus jaminan kesehatan, dan memantau konsumsi tablet tambah darah. Kunjungan rumah dilakukan agar tidak ada yang terlewat. Peran kader menjadi kunci. Tanpa mereka, intervensi berhenti di gedung layanan.
Intervensi gizi dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan. Sasaran utamanya ibu hamil dengan anemia atau Kekurangan Energi Kronis serta balita dengan berat badan kurang. Menu disusun bersama tenaga gizi puskesmas. Distribusi dilakukan dalam periode tertentu dan disertai pemantauan ketat.
Hasilnya tak tampak indah, tetapi nyata. Berat badan ibu hamil meningkat, kadar hemoglobin membaik. Pada balita, terjadi kenaikan berat dan perbaikan indikator pertumbuhan. Angka stunting menurun, meski tidak seluruhnya melampaui target awal. Program ini menunjukkan bahwa perbaikan gizi yang konsisten, jika disertai pemantauan medis, memberi dampak terukur.
Stunting tak selalu perihal konsumsi. Sanitasi dan perilaku juga berperan. Di beberapa desa masih ditemukan praktik buang air besar di sungai. Program mendorong keterlibatan dinas terkait dalam forum rembuk stunting desa. Toilet komunal dibangun di titik kritis. Sanitasi dipahami sebagai bagian dari pencegahan infeksi berulang, bukan sekadar proyek fisik.
Upaya pencegahan jangka panjang dilakukan melalui Posyandu Remaja. Remaja putri diperiksa status anemia dan mendapat edukasi kesehatan reproduksi. Diskusi tentang usia perkawinan menjadi penting di wilayah yang masih memandang perkawinan anak sebagai hal biasa. Prosedur dispensasi diperketat melalui koordinasi lintas lembaga. Jumlah permohonan menurun. Apakah sepenuhnya karena kesadaran meningkat, belum dapat dipastikan. Tetapi tata kelola menjadi lebih sistematis.
Program juga memperkenalkan Kebun Gizi. Keluarga diajak menanam sayuran di pekarangan dan mengelola budidaya ikan skala kecil. Hasilnya belum besar, tetapi cukup untuk menambah variasi pangan rumah tangga. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang: bahwa pemenuhan gizi tidak selalu bergantung pada pasar.
Salah satu perubahan paling menentukan justru terjadi di ruang musyawarah desa. Melalui pra-rembug dan rembug stunting, desa didorong mengalokasikan Dana Desa untuk kegiatan kesehatan ibu dan anak. Pada 2024, desa-desa di wilayah intervensi telah memasukkan anggaran PMT dan kegiatan pendukung dalam APBDes. Komitmen anggaran ini menjadi penanda keberlanjutan. Program tidak berhenti sebagai proyek eksternal.
Beberapa pelajaran dapat dicatat
Pertama, teknologi sederhana dapat mengubah praktik layanan jika disertai pelatihan dan pendampingan. Kedua, kader adalah simpul utama sistem kesehatan desa. Mereka menjembatani rumah tangga dan fasilitas layanan. Ketiga, koordinasi lintas sektor harus difasilitasi secara sadar. Tanpa forum bersama, setiap lembaga bekerja sendiri.
Keempat, stunting tidak selalu identik dengan kemiskinan. Di wilayah yang relatif urban pun kasus ditemukan, sering kali terkait pola asuh dan konsumsi pangan rendah gizi. Karena itu intervensi sensitif—edukasi dan perubahan perilaku—tidak kalah penting dari intervensi spesifik seperti PMT.
Kelima, keberlanjutan bergantung pada keputusan politik di tingkat desa. Ketika desa bersedia menganggarkan, intervensi memiliki peluang bertahan.
Dalam 18 bulan pelaksanaan, jumlah ibu hamil yang mengakses layanan meningkat melampaui target awal. Penurunan stunting terjadi meski tidak sepenuhnya sesuai proyeksi. Yang lebih penting adalah perubahan sistem: layanan lebih siap, kader lebih aktif, koordinasi lebih jelas, dan desa lebih terlibat.
Percepatan penurunan stunting tidak dapat diserahkan pada satu pihak. Ia memerlukan orkestrasi. Puskesmas, pemerintah desa, kader, organisasi masyarakat, dan keluarga harus bergerak dalam arah yang sama. Program ini menunjukkan bahwa ketika intervensi teknis dipadukan dengan penguatan tata kelola desa, perubahan menjadi lebih kokoh.
Di Jember, perubahan itu tidak datang dengan sorak-sorai. Ia hadir dalam rutinitas: timbang bayi setiap bulan, ibu hamil yang kini memeriksakan kandungan lebih awal, remaja yang mulai menunda perkawinan, dan halaman rumah yang ditanami sayur.
Praktik baik ini bukan kisah sempurna. Masih ada tantangan perilaku, masih ada kebiasaan lama yang bertahan. Tetapi ada satu hal yang berubah: desa tidak lagi menunggu. Mereka mulai mengelola masalahnya sendiri.
Mungkin di situlah maknanya. Bukan pada kilau hasil yang segera tampak, melainkan pada sistem yang pelan-pelan dibenahi. Sesuatu yang tumbuh bukan karena satu intervensi besar, tetapi karena banyak langkah kecil yang dikerjakan bersama.