Ada tahun-tahun ketika sebuah desa hanya dikenal lewat angka. Pada 2021, Sananrejo tiba-tiba menjadi “lokus” dengan lebih dari 150 anak bergaris merah di tabel stunting. Angka itu membuat sebagian orang ingin memoles kenyataan—sebuah godaan lama dalam birokrasi yang percaya bahwa persoalan bisa disembunyikan. Tapi Kepala Desa, Erna Yustining memilih mengatakan apa adanya. Keputusan kecil yang kemudian mengubah banyak hal, meski tak ada yang tahu, bahwa itu adalah pintu pertama yang membuka jalan.

Sejak itu, Sananrejo didatangi banyak pemangku kepentingan: Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, Perikanan, bahkan para legislator. Mereka datang setelah pertemuan di sebuah ruang rapat. Ketika data diperdebatkan seolah-olah ia bisa dibengkokkan, Bu Erna menyela: yang penting bukan angka yang menuduh, tetapi apa yang bisa dikerjakan? Sikap itu, entah bagaimana, memindahkan percakapan dari tesis menuju tindakan.

Desa mulai mencoba sesuatu yang terlihat sederhana: memberikan makanan bergizi tiga kali sehari kepada 30 anak selama tiga bulan. Ada menu, ahli gizi, dan Dana Desa. Namun perbaikan tak merata. Anak yang naik beratnya pada bulan pertama bisa turun kembali pada bulan kedua. Dari kegagalan kecil itu, muncul kesadaran bahwa makanan hanya satu bagian dari cerita. Ada keluarga yang tak tahu cara menjaga kebersihan rumah; ada orang tua yang memasak dengan kebiasaan lama; ada pola asuh yang tak pernah dibicarakan karena dianggap tabu. Stunting, ternyata, bukan hanya urusan dapur.

Awal 2025, desa bertemu PATTIRO —mitra pelaksana program Desa Sehat YAPPIKA-ActionAid di Malang. Di Turen, diskusi itu membuka paradigma yang lain: stunting bisa berawal dari keputusan yang diambil sebelum seorang anak lahir—kehamilan yang dinanti maupun tak direncanakan, atau pengetahuan remaja yang tak pernah terbentuk. Dalam pandangan baru itu, persoalan kesehatan tiba-tiba meluas ke ranah sosial, ke lingkaran keluarga, ke masa depan yang diputuskan terlalu cepat.

Pelan-pelan pola kerja berbeda mulai tumbuh. Jumlah kader diperbanyak agar tiap RT memiliki Ibu yang memperhatikan, mencatat, meskipun kadang ditolak. Lalu insentif mereka dinaikkan, bukan karena jasa yang setara nominal, tetapi karena desa belajar bahwa data pertama selalu datang dari mereka. Dari rumah ke rumah itulah desa memahami kebiasaan, kerentanan, dan kadang kekerasan kecil yang berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, desa bersama mitra merumuskan prosedur standar untuk pemantauan dan rujukan ibu hamil. Ia bukan dokumen yang tiba-tiba mengubah keadaan; ia lebih seperti peta yang menggambarkan jalan yang sebenarnya sudah ditempuh selama ini: kader memulai, bidan mengonfirmasi, perangkat desa mengurus administrasi warga, ambulans bergerak jika harus bergerak. Perdes yang mengesahkannya belum ada, tapi praktiknya sudah berjalan secara de facto—seolah hukum tertulis selalu datang paling akhir.

Desa juga melakukan pendampingan remaja. Posyandu Remaja dibentuk tanpa seremoni besar. Anak-anak muda datang, bukan untuk diceramahi, tapi untuk diajak berbicara—tentang tubuh dan otoritas, tentang hubungan dan keputusan, tentang bagaimana menjadi dewasa yang bukan perkara usia, melainkan kesiapan. Perlahan mereka menjadi pengingat bagi sesama: bahwa masa depan bisa dibicarakan sedikit lebih dekat.

Perubahan di Sananrejo tak datang sebagai satu proyek yang rapi. Ia menyerupai proses belajar yang panjang: dari angka yang mengagetkan, dari upaya pemenuhan gizi yang tak sempurna, dari rumah yang dikunjungi kader dengan rasa canggung, dari rapat yang kadang lebih banyak debat daripada membicarakan solusi. Bu Erna menyebut bahwa apa yang berjalan kini sebenarnya sudah seirama dengan prosedur standar yang mereka susun; tinggal menunggu payung hukum. Tapi mungkin perubahan itu sudah terjadi sebelum dituangkan ke dalam tahapan kerja: di antara para kader, bidan, perangkat desa, dan remaja yang mulai saling menyambung. Di sanalah kesehatan ibu dan anak menemukan ruangnya—tak lagi sebagai program, tapi sebagai cara desa menjaga dirinya sendiri.